Tampilkan postingan dengan label Teknik Elektromedik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknik Elektromedik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Februari 2012

Mediland P2000 Operating Table

Hari ini dari RS Kasih Ibu Solo perbaikan meja operasi Mediland P2000.
Keluhannya adalah bed yang bisa goyang kanan - kiri meski sudah di lock.
Pada gambar di bawah, bed bisa goyang searah tanda panah.
Langkah awal adalah melokalisir bagian yang tidak terkunci sempurna.
Dengan observasi lebih lanjut, bagian yang tidak terkunci adalah saya tunjukkan dengan garis lengkung dibawah bed.
Setelah ketemu sumbernya, mari kita perbaiki.
Langkah awal :
1. Naikan table maksimal dengan remote. Buka cover stainless penutup hidrolik ( gunakan obeng plus)
    Buka baut sesuai tanda panah.
 2. Setelah terbuka, tampak seperti di bawah:
3. Kencangkan ke empat baut L sesuai tanda panah: (pada gambar hanya 3 baut yang tampak)
4. Setelah baut L dirasa kencang, coba gerakkan/goyangkan bed untuk memastikan bed sudah benar - benar terkunci.
5. Setelah dirasa cukup, pasang kembali cover seperti semula (pasang cover bagian bawah dulu, baru yang atas).


Nah,itulah yang saya lakukan tadi saat perbaikan meja operasi tersebut.
Gampang kan??hehehehe

Semoga bermanfaat

Selasa, 14 Februari 2012

Electro Surgery Unit (ESU) 2

Pada bagian 2 ini, saya akan mengupas sedikit mengenai alat ESU yang beredar di pasaran.
Alat ini adalah Force FX dari Valleylab. Untuk sebagian besar teknisi medis RS pasti tahu alat ini.
Alat ini memiliki 3 mode pengoperasian:
1. Mode Bipolar (Precise, Standard,Macro)

2. Mode Monopolar CUT (Low, Pure, Blend)
3. Mode Monopolar COAG (Dessicate, Fulgurate, Spray)

Gambar Front panel Force FX :




Gambar Rear panel:

Secara blok diagram, dalam unit Force FX berisi blok sebagai berikut:


 

Electro Surgery Unit (ESU) 1


Salah satu alat penunjang alat kesehatan adalah ESU (electro surgery unit), yang digunakan pada saat tindakan pembedahan. Pada zaman dulu, pembedahan dilakukan dengan cara biasa, yaitu dengan pisau bedah. Pembedahan konvensional ini terkadang menyebabkan pasien banyak mengeluarkan darah. Dengan menggunakan ESU, pendarahan yang terjadi pada saat tindakan pembedahan dapat diminimalisir, karena pembuluh darah yang tebuka disekitar luka dapat langsung menutup. 

     Alat ini memiliki prinsip kerja merusak jaringan tubuh tertentu  dengan memanaskan jaringan tersebut. Panas didapat dengan cara pemusatan arus listrik frekuensi tinggi pada jaringan tubuh tertentu dengan menggunakan elektroda sebagai medianya. Adapun jangkauan frekuensi yang biasa dipakai berkisar antara 500 kHz sampai dengan 2,5 MHz.
     Pengoperasian ESU dibagi menjadi 2 (dua) mode, yaitu bipolar dan monopolar. Mode bipolar biasa digunakan pada bedah minor untuk proses koagulasi (pembekuan). Sebuah elektroda berbentuk pinset digunakan untuk menjepit jaringan yang tidak diinginkan, kemudian arus listrik frekuensi tinggi mengalir dari ujung elektroda melewati jaringan tadi kemudian menuju ujung elektroda yang lain. Pada mode monopolar digunakan dua elektroda terpisah, yaitu elektroda aktif dan elektroda pasif/ netral dengan permukaan yang lebih luas yang ditempatkan dekat dengan lokasi yang akan dibedah. Arus listrik akan terpusat pada elektroda aktif dan elektroda netral didesain untuk mendistribusikan arus listrik dengan tujuan mencegah kerusakan jaringan. Mode monopolar lazimnya digunakan pada bedah mayor dengan metode pemotongan/ cutting. Oleh karena itu, mode bipolar lebih banyak digunakan untuk melakukan pembedahan minor.

     Pada umumnya, pesawat electrosurgery unit bisa menghasilkan berbagai bentuk gelombang listrik. Perubahan dari bentuk gelombang tersebut akan menghasilkan efek yang berbeda terhadap jaringan. Penggunaan suatu bentuk gelombang yang kontinyu menyebabkan terjadinya penguapan atau pemotongan jaringan. Bentuk gelombang kontinyu menyebabkan terjadinya pemanasan yang sangat cepat.
     Dengan menggunakan suatu bentuk gelombang intermitten (terpotong-potong) maka akan dihasilkan panas lebih sedikit. Karena hal tersebut maka pada jaringan akan terjadi pengentalan atau koagulasi. Bentuk gelombang campuran (blend 1,2 dan 3) bukanlah pencampuran dari gelombang kontinyu dan intermitten, melainkan modifikasi pada siklus tugas dari gelombang utama. Dari blend 1 sampai blend 3 siklus tugasnya semakin dikurangi. Semakin rendah siklus tugasnya maka panas yang dihasilkan juga semakin berkurang. Pada blend 1 memiliki efek pemanasan yang tinggi dengan efek hemostasis yang rendah. Sedangkan pada Blend 3 memiliki efek pemanasan yang rendah dengan efek hemostasis tinggi.
     Tubuh manusia mempunyai suatu tahanan atau resistansi dari elemen-elemen di dalam tubuh yang berbeda-beda, namun besarnya relatif sama dengan kadar air yang dikandung dari masing-masing elemen: otot berkadar air 72%, hingga 75%, otak berkadar air sekitar 68%, lemak 14%, semakin banyak kadar air yang dimiliki jaringan maka semakin baik daya hantar listriknya. Apabila tahanan ini dialirkan arus listrik, maka akan ada energi listrik yang hilang dan berubah menjadi panas. Semakin besar arus listrik yang dihasilkan maka semakin besar pula panas yang dihasilkan, serta makin besar juga efek perusakan pada jaringan tubuh
    Dalam penggunaan pesawat ESU terdapat beberapa efek yang dapat mempengaruhi jaringan-jaringan biologis pada tubuh yang diakibatkan karena frekuensi tinggi. Dampak yang ditimbulkan dari frekuensi tinggi itu antara lain :
1)      Efek Thermal
Efek Thermal yaitu terjadinya panas pada jaringan tubuh yang disebabkan   oleh aliran frekuensi tinggi yang masuk ke dalam tubuh.
2)      Efek Faradik
Efek Faradik ini dapat timbul karena bila suatu otot pada tubuh diberikan arus dengan frekuensi tertentu maka secara refleks otot akan bergerak akibat rangsangan yang diterimanya. Untuk menghindari terjadinya efek faradik itu maka frekuensi yang digunakan sekurang-kurangnya 300KHz,
3)      Efek Elektrolitik
Efek Elektrolitik adalah efek yang ditimbulkan karena mengalirnya arus listrik di dalam jaringan biologis sehingga mengakibatkan terjadinya pergerakan ion-ion dalam tubuh.